Rabu, 16 Januari 2008


Hideki Shirakawa, Seorang Kakek Biasa yang Menolak untuk Menerima Kegagalan
Oleh Silvia Iskandar

"Dou shiyou...shashin toritai naaa... (Duh, gimana ya..pengen minta foto sama-sama deh..)" Beberapa orang berjalan mondar-mandir sambil membisikkan hal yang sama di seputar seorang kakek yang berdiri di tengah ruangan. Kalau dilihat sekilas, ia tidak ada bedanya dengan beberapa kakek dan bapak-bapak lainnya di ruangan resepsi IBM Science Award, penyelenggara, sponsor, juri dan penerima hadiah, sama seperti dirinya, memakai jas dan dasi dengan bersematkan pita merah besar yang bertuliskan nama mereka masing-masing. Hanya saja di sekitar kakek yang satu ini, orang-orang tidak putus-putusnya berkerumun. Jumat, 28 November 2003 yang lalu, professor saya bersama beberapa akademiawan lainnya diundang untuk hadir di IBM Science Award, yang disponsori oleh, tentu saja, IBM. Sebuah penghargaan tahunan yang diberikan kepada para ilmuwan muda berprestasi (kategorinya usia di bawah 45 tahun) di Jepang. Undangan untuk menghadiri penghargaan ini datang di setiap meja praktikum kami, dan saya pun, bersama kira-kira 10 teman labotarium lainnya turut menghadirinya.

Akhirnya setelah menunggu-nunggu sekian lama, rombongan kami berhasil berhadap-hadapan langsung dengan Hideki Shirakawa, penerima hadiah Nobel di bidang kimia pada tahun 2000.
"Klik" bunyi shutter kamera benar-benar memuaskan hati kami. Senior saya yang pada hari itu bertugas sebagai sie dokumentasi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Untuk sesaat kami gugup dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Hati saya berdebar-debar karena sejak seminggu yang lalu saya memutuskan datang bukan hanya untuk menghantarkan profesor saya memperoleh penghargaannya saja tapi juga untuk berbincang-bincang langsung dengan penerima hadiah Nobel, Hideki Shirakawa, yang kebetulan adalah salah satu anggota tim juri IBM Science Award ini.

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan juri untuk menentukan siapa pemenangnya?" Sikutan teman saya memberikan dorongan spontan, dan saya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Sesaat saya bisa merasakan tarikan nafas lega teman-teman karena ada pertanyaan yang diajukan sehingga kami tidak langsung pergi setelah berhasil berfoto bersama.
"Ooh..ya prosesnya bertahap, mula-mula ada beratus-ratus kandidat." Jawabnya dengan suara yang relatif kecil dan pelan.

Hideki Shirakawa, usia 67, lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di tengah-tengah pegunungan. Ia besar di tengah-tengah alam, berlari-lari di pinggir sawah-sawah, mengumpulkan serangga, berenang-renang di sungai dan menangkap belut. Ia hanyalah anak kecil biasa yang lebih banyak main daripada belajar. Tapi justru keakrabannya dengan alam inilah yang membuatnya tertarik untuk memperhatikan hal-hal kecil, mengutak-atik mesin dan selalu punya rasa ingin tahu terhadap benda-benda di sekelilingnya, bahkan dari sejak ia masih berusia belasan tahun. Tanpa sadar, alam telah menganugerahkannya sikap-sikap ideal yang diperlukan untuk menjadi seorang peneliti. "Mengurangi kelemahan plastik yang ada sekarang dan membuat bermacam jenis plastik baru." Demikianlah cita-citanya sebagaimana yang tertulis pada buku album kenangan SMP-nya. Ia sendiri mengaku tidak ingat apa yang membuatnya menulis demikian. Perjalanannya menuju hadiah Nobel dimulai oleh sebuah kegagalan praktikum.

Pada musim gugur 1967, Shirakawa yang waktu itu menempati posisi research associate di sebuah laboratorium di Tokyo Institute of Technology, kebingungan karena usaha seorang anak didiknya untuk membuat polimer poliasetilen tidak berhasil. Tujuan praktikum pada waktu itu ialah untuk menyelidiki mekanisme polimerisasi poliasetilen dengan menggunakan katalis Ziegler-Natta. Dengan cara biasa, polimer poliasetilen didapatkan dengan bentuk bubuk hitam, tapi kali ini, yang didapat hanyalah beberapa pecahan dari lapisan tipis berwarna perak mengkilat. Percobaan dianggap gagal dan diulangi kembali. Namun tidak peduli berapa kali pun dicoba, bubuk hitam yang diharapkan tidak berhasil mereka dapatkan. Belakangan Shirakawa baru menyadari bahwa jumlah katalis yang dipakai dalam eksperimen itu salah. Katalis yang seharusnya cukup dipakai sebanyak x mmol, dipakai sebanyak x mol. Sampai sekarang pun ia tidak tahu apa yang menyebabkan kesalahan yang boleh dibilang cukup konyol ini sampai terjadi. Apakah ia yang salah tulis, atau anak didiknya yang salah baca.
Dengan digunakannya 1000 kali lipat katalis dari jumlah yang seharusnya, reaksi pun berlangsung lebih cepat 1000 kali lipat. Akibatnya seluruh gas asetilen tidak terpolimerisasi dengan sempurna, dan hanya bagian permukaan yang bersentuhan dengan katalis saja yang sempat menjadi polimer. Prof. Alan G. MacDiarmid dari University of Pennsylvania yang tertarik dengan hasil penelitian ini mengundang Shirakawa untuk meneruskan penelitiannya di laboratoriumnya di Amerika dan Shirakawa menghabiskan setahun di sana. Pada saat itu ia juga berkenalan dengan Prof. Alan J. Heeger yang kelak turut memperoleh hadiah Nobel bersama Shirakawa dan MacDiarmid. Sebuah tonggak sejarah dalam penemuannya juga mengambil tempat di sana. Pada saat itu, Shirakawa penasaran melihat cahaya poliasetilen film ini. Ia berpikir, kalau polimer ini berkilau-kilau seperti logam, jangan-jangan polimer ini punya sifat penghantar listrik seperti logam? Tebakannya itu ternyata terbukti ketika jarum elektrometer yang dipakainya untuk mengukur konduktivitas (daya hantar listrik) ini meloncat dengan mendadak pada saat ia dan seorang ilmuwan lainnya menambahkan bromin pada poliasetilen film. Inilah titik awal lahirnya plastik penghantar listrik.

Elektron dari rantai karbon poliasetilen yang bersemayam dengan nyamannya, tiba-tiba direnggut oleh bromin, sehingga terjadi kekosongan muatan negatif yang menyebabkan terbentuknya karbokation (soliton bermuatan positif). Kurangnya muatan negatif pada satu karbon membuatnya menarik elektron dari karbon tetangga yang kemudian juga terpaksa menarik elektron tetangganya untuk memenuhi kekurangan ini sehingga terjadilah arus elektron pada poliasetilen ini.

Penemuan Shirakawa, yaitu polimer konduktif, dapat kita temukan di sekeliling kita. Misalnya baterai telepon genggam dan touch-screen (layar monitor yang bereaksi kalau disentuh).
"Bagaimana Bapak biasanya menentukan tema riset? Apakah Bapak lebih cenderung melakukan penelitian di ilmu-ilmu dasar atau ilmu-ilmu aplikatif yang bisa langsung berguna untuk masyarakat?" tanya seorang teman yang kebetulan berdiri di samping saya. "Ah, saya tidak pernah berpikir seperti itu. Yang penting saya melakukan apa yang saya suka." jawabnya dengan tersenyum ramah. "Walaupun kelak tidak berguna?" tegas teman saya sekali lagi. Dia memang sudah bertekad untuk melanjutkan ke program doktor. Untuk dia, menentukan tema penelitian sama dengan menentukan masa depannya. "Yang penting kita lakukan apa yang kita suka, tapi juga kita jelaskan dengan mudah ke orang-orang lain supaya mereka bisa menghargai hasil jerih payah kita."

Jawaban yang begitu sederhana. Sesederhana si penjawab sendiri. Rambutnya yang putih kekuningan membingkai wajah dan lehernya yang berwarna merah cerah. Sebagai orang penting, meneguk minuman keras yang dituangkan orang lain baginya adalah bagian dari tata krama. Tubuhnya begitu kecil dan rapuh, matanya yang kecil dan berkeriput dilindungi sebuah kaca mata. Penampilannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang ilmuwan raksasa. Dan saya pun bertanya-tanya dalam hati, apa sih yang membuat kakek-kakek biasa ini meraih sukses yang begitu luar biasa itu? Sesampainya di rumah, ketika menghadapi layar komputer, saya baru mengerti. Shirakawa menolak untuk menerima kegagalan. Di saat beribu-ribu ilmuwan maupun mahasiswa di laboratorium membuang cairan-cairan kimia yang salah dibuatnya, di saat mereka menyerah setelah kegagalan beruntun dan memutuskan untuk mengubah tema penelitian mereka, di saat mereka menerima kegagalan sebagai kesalahan yang harus dilupakan dan diperbaiki, Hideki Shirakawa percaya akan kebenaran dalam kegagalannya.

Si Manis yang Berbahaya

Si Manis Yang Bermasalah
Oleh Silvia Iskandar
Coba perhatikan komposisi bahan pada bungkus-bungkus makanan jadi di sekitar kita, terutama yang berembel-embel kata "diet", "rendah kalori", atau "bebas gula". Apa yang Anda lihat di sana? Aspartame, aspartame, lagi-lagi aspartame? Kalau begitu mungkin Anda perlu berhati-hati, apalagi kalau makanan-makanan ini termasuk yang sering Anda konsumsi.
Tapi tunggu dulu, sebenarnya aspartame ini makhluk apa sih? Kok dia begitu merajai produk makanan yang ada di pasaran?
Aspartame adalah bahan pemanis rendah kalori pengganti gula biasa (sukrosa) yang ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1965 oleh James Schlatter, peneliti yang pada waktu itu bekerja di G.D.Searle and Co. dan sedang berusaha mencari obat baru untuk luka dalam. Ketika ia menjilat jarinya untuk memudahkannya mengambil selembar kertas, Schlatter menyadari betapa manisnya rasa senyawa sintesis yang telah ia buat. Senyawa inilah yang kemudian diberi nama aspartame, yang telah menjadi bagian menu sehari-hari masyarakat modern.
Kita bisa merasakan rasa manis kalau molekul yang tepat melekat pada reseptor, yaitu struktur penerima stimulasi dari luar, yang terdapat pada membran sel lidah. Melekatnya molekul ini memicu proses berantai yang pada akhirnya menghasilkan zat transmisi saraf. Zat ini berfungsi sebagai sinyal yang memberi tahu otak bahwa kita sedang memakan sesuatu yang manis. Jadi sebenarnya, zat apapun yang melekat dengan pas pada reseptor rasa manis kita, akan dianggap gula oleh otak. Itulah sebabnya kenapa selain aspartame masih banyak lagi pemanis buatan, di antaranya saccharin, sorbitol, acesulfame potassium dan lain-lain. Struktur, golongan, bahan dasar dan harganya yang berbeda-beda membuat dunia pemanis buatan semakin marak. Kadar rasa manisnya yang beratus-ratus kali lipat gula biasa membuatnya menjadi bahan makanan tambahan yang tepat ditinjau dari segi komersil Para produsen minuman kaleng dapat menggunakan lebih banyak air dan menurunkan ongkos produksi, di samping itu para konsumen pun dapat mengurangi jumlah kalori yang mereka konsumsi dan menjaga berat badan atau kadar gula darah bagi penderita kencing manis.

Gula biasa dicerna dan masuk ke dalam siklus metabolisme tubuh untuk kemudian diubah menjadi kalori. Kalori yang berlebihan dan tidak terpakai disimpan sebagai lemak. Sementara itu saccharin dan acesulfame tidak tercerna dan berarti tidak menjadi kalori sama sekali.
Bereda dengan saccharin dan acesulfame yang akhirnya disingkirkan begitu saja, di dalam tubuh aspartame, yang lebih mudah disintesis ini, kembali diubah menjadi 3 komposisi dasarnya: phenylalanine, aspartate dan methanol. Inilah yang menyulut perdebatan sengit seputar aspartame yang sampai sekarang pun masih belum benar-benar terselesaikan.
Phenylalanine adalah asam amino yang tidak dapat dicerna oleh penderita phenylketonuria (PKU). Penderita PKU tidak mempunyai enzim yang dapat mencerna phenylalanine menjadi zat transmisi saraf. Akibatnya phenylalanine terakumulasi dalam jaringan saraf dan dapat menyebabkan cacat mental.
Efek buruk aspartame terhadap penderita PKU yang sudah jelas ini masih dapat diatasi dengan label tambahan yang memperingatkan penderita PKU untuk tidak mengkonsumsi produk tersebut. Yang jadi masalah ialah efek aspartame yang masih belum jelas: phenylalanine dilaporkan dapat menyebabkan kejang-kejang dan dan didegradasi menjadi diketopiperazine (DKP), zat penyebab tumor; methanol yang terakumulasi dalam tubuh dapat merusak saraf mata dan menyebabkan kebutaan. Selain itu methanol juga diubah menjadi formaldehida (zat pengawet mayat) dan asam format (zat racun semut rangrang). Aspartate juga dilaporkan telah menyebabkan otak tikus-tikus percobaan berlubang.
Di Amerika, di mana kegemukan sudah menjadi masalah nasional dan bukan hanya problem pribadi, laporan-laporan miring mengenai aspartame ini cukup menggegerkan. Grafik kasus kanker payudara menunjukkan peningkatan yang selaras dengan peningkatan penggunaan aspartame dalam produk makanan jadi, suatu fakta yang lagi-lagi menambah alasan mengapa aspartame harus dicurigai.
Saccharin adalah pemanis buatan yang ditemukan pertama kali pada tahun 1879. Pemanis buatan yang kurang populer ini tiba-tiba saja menjadi bahan pokok penduduk sipil ketika semua gula yang ada dikirim ke medan perang untuk konsumsi para tentara pada Perang Dunia I. Namun pada saat Perang Teluk tahun 1991, aspartame-lah yang dikirim dalam kemasan minuman kaleng diet soda. Panasnya terik matahari mengkatalisasi proses kimia yang memecah aspartame menjadi komponen-komponen mautnya. Semakin banyak orang yang curiga kalau aspartame adalah biang keladi Gulf War Syndrome, penyakit yang menggerogoti veteran Perang Teluk dengan gejala-gejala seperti sakit kepala, gangguan pernafasan dan rasa lelah yang berlebihan.
Debat seputar aspartame masih belum dapat terselesaikan karena masih belum ditemukan bukti langsung yang menunjuk aspartame sebagai penyebab kesemuanya ini. Mungkin saja para veteran Perang Teluk mengisap gas beracun di medan perang, siapa bilang jumlah aspartame yang kita konsumsi sudah mencapai dosis yang membahayakan? Kira-kira begitulah komentar para pendukung aspartame. Sementara itu kepentingan komersil lebih diutamakan dan aspartame tetap mempertahankan posisinya dalam daftar resmi bahan makanan tambahan.

Beberapa link untuk referensi selanjutnya:
http://aspartamekills.com/mpvalley
http://www.caloriecontrol.org/sorbitol.html
http://www.aspartame-info.com/

Ada apa dengan betere ?

Phenomena Memory Effect
pada batere isi ulang (rechargeable battery)
oleh : aswan hamonangan

Sejak pemakaian laptop dan telepon genggam menjadi lumrah, sekarang ini kita semakin akrab dengan jenis-jenis batere yang digunakan. Tipe batere yang banyak dipakai adalah NiCd (Nickel Cadmium), NiMH (Nickel Metal Hydride) dan ada Li-ion (Lithium Ion) dan Li-ion Polymer. Dikalangan penggemar tamiya (mobil balap mainan), batere tipe Alkalin menjadi pilihan karena relatif murah. Kesemua tipe batere ini adalah tipe batere yang dapat di-isi ulang (rechargeable). Sering kita mendengar keluhan bahwa batere tipe NiCd tidak awet, sebab setelah beberapa kali di isi ulang ternyata kapasitasnya menjadi berkurang. Batere NiCd disebut memiliki masalah memory effect sedangkan batere NiMH yang lebih ringan, dikatakan lebih awet dan tidak mengalami masalah ini. Tetapi sering juga ada beberapa penjelasan mengatakan bahwa batere tipe NiMH juga mengalami masalah yang sama. Belakangan ini pengguna laptop dan telepon genggam akrab dengan tipe betere Lithium-ion dan Lithium-ion Polymer yang lebih ringan lagi dibandingkan batere tipe NiMH. Tipe batere Li-ion dan Li-ion Polymer diiklankan tidak memiliki problem memory effect dan lebih awet dibandingkan dengan tipe batere lainnya. Tulisan berikut barangkali merupakan anjuran bagaimana agar batere NiCd yang lebih murah itu (walau relatif lebih berat) dapat awet pemakaiannya. Prinsip ini juga dapat diterapkan pada tipe batere lain agar lebih awet dan tidak cepat rusak.

Istilah memory effect
Sebenarnya istilah memory effect rancu dan salah kaprah, sebab batere bukanlah komponen yang memiliki memori. Ada yang mengatakan batere NiCd akan “mengingat” kapasitas pada saat pengisian yang pertama. Ada juga yang mengatakan jika batere diisi ulang (charge) pada keadaan belum sepenuhnya kosong, maka kapasitas penuhnya akan berkurang menjadi setengahnya. Jika tadinya batere dapat beroperasi selama 1 jam, lalu menjadi setengah jam. Sampai akhirnya jika hal sama dilakukan berulang-ulang, waktu operasi batere hanya mampu bertahan beberapa detik saja. Walaupun sudah diisi penuh, waktu bicara telepon genggam menjadi sangat pendek dan waktu operasi laptop (tanpa power AC) menjadi sangat singkat. Untuk menghindari masalah memory effect, pengguna dianjurkan untuk mengisi (charge) batere hanya jika batere itu benar-benar kosong (fully discharged) atau batere harus dikosongkan sebelum mengisinya sampai penuh. Tetapi apakah benar demikian ? Batere adalah adalah komponen sumber energi listrik (elektron) yang berasal dari reaksi kimia dan tentu saja tidak ada memori didalamnya. Istilah memory effect memang salah kaprah untuk menjelaskan kerusakan batere yang menyebabkan kapasitasnya berkurang. Namun apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana menjelaskan phenomena ini yang pada kenyataannya batere jenis tersebut memang sering mengalami masalah yang demikian.

Anatomi batere NiCd
Satu sel batere NiCd dibuat dengan katoda (terminal positif) dari bahan Nickelic Hydroxide (NiOOH) dan anoda (terminal negatif) dari bahan metal Cadmium (Cd). Larutan elektrolit yang digunakan biasanya Potassium Hydroxide (KOH) dengan air (H2O) sebagai bahan pelarut. Elektrolit pada batere NiCd tidak ikut dalam reaksi, namun air dalam hal ini ion hydroxide (OH) ikut berperan penting. Reaksi kimia dua arah yang terjadi pada sel batere NiCd adalah sebagai berikut. Reaksi kimia pada batere secara umum dikenal dengan istilah reaksi redoks (redox) yaitu reduksi dan oksidasi.
2NiOOH + Cd +2H2O « 2Ni(OH)2 + Cd(OH)2
Reaksi dari kiri ke kanan adalah reaksi reduksi pengosongan batere (discharge). Reaksi ini terjadi ketika terminal positif terhubung dengan terminal negatif melalui satu beban resistif. Batere dikatakan habis jika seluruh ion-ion hydroxide (OH) yang tadinya ada diterminal positif berupa Nickelic Hydroxide (NiOOH) berpindah ke terminal negatif metal Cadmiun (Cd). Dengan berpindahnya ion (elektron) tersebut, Cadmiun teroksidasi menjadi Cadmium Hydroxide Cd(OH)2. Pada saat yang sama terminal positif ter-reduksi menjadi Nikelous Hydroxide Ni(OH)2. Sampai di sini tidak ada masalah sebab ini adalah proses normal dari penggunaan batere.
Lalu reaksi dari kanan ke kiri adalah proses sebaliknya yaitu proses pengisian (charge) batere. Dimana dengan mengalirkan sejumlah arus konstan pada terminalnya (dengan polaritas yang sebaliknya), kembali ion-ion hydroxide berpindah dari terminal negatif ke terminal positif. Proses ini akan kembali membentuk Nikelic Hydroxide pada terminal positif dan metal Cadmiun pada terminal negatif. Batere dikatakan penuh jika seluruh ion-ion hydroxide telah berpindah tempat. Sampai disini juga tidak ada masalah, sebab ini merupakan proses normal dari pengisian batere.

Hindari Overcharging
Namun apa yang terjadi jika pengisian ini terus berlangsung (overcharging). Kelebihan elektron yang disuntikan pada batere akan menguraikan air (H2O) membentuk Oksigen (O2) pada terminal positif dan Hidrogen (H2) pada terminal negatif batere. Jika semakin banyak, oksigen dan hidrogen bisa bertemu dan akibatnya dapat menimbulkan ledakan. Batere di-disain sedemikian rupa dengan mebuat terminal negatif Cadmiun yang sudah dioksidasi terlebih dahulu (pre-oxidiced), sehingga kelebihan Hidrogen dan Oksigen yang terbentuk akibat overcharging masih dapat diserap membentuk Cadmiun (Cd) pada terminal negatif. Tetapi tentu ada batasnya. Jika overcharging terus berlangsung, kelebihan gas oksigen dan hidrogen akan terbentuk di dalam sel batere. Pembuat batere mensiasati hal ini dengan melengkapi ventilasi pada batere. Semacam lubang kecil agar gas hidrogen dan oksigen dapat keluar jika ada kelebihan akibat overcharging. Hal ini menyebabkan unsur air (H2O) yang memegang peran dalam perpindahan ion-ion OH pada batere menjadi berkurang. Mudah dipahami, akibatnya adalah berkurangnya kemampuan atau kapasitas batere untuk menyimpan/menghasilkan energi listrik. Anjuran yang paling manjur agar batere lebih awet adalah dengan menghindari overcharging. Selalu dianjurkan agar tidak mengisi batere sehari semalam sampai luber.

Batere lebih awet pada suhu kerja optimum
Overcharging juga menyebabkan suhu meningkat dan batere menjadi panas. Unsur-unsur logam dan material yang terbentuk pada proses pengisian batere adalah berupa kristal berukuran mikro. Kristal-kristal halus akan mudah terurai pada saat batere dipergunakan (discharge). Namun panas akan menyebabkan kristal yang terbentuk adalah kristal-kristal yang relatif besar dan padat. Hal ini mengakibatkan proses penguraiannya saat batere digunakan akan menjadi lebih sulit. Dengan kata lain, jika kristal yang terbentuk semakin padat dan bertumpuk, batere menjadi kehilangan daya simpan alias rusak. Panas menjadi musuh utama batere, tidak hanya panas akibat dari overcharging juga panas lain dari lingkungan luar. Tips untuk ini adalah menjaga agar batere bekerja pada kondisi suhu optimum yang dianjurkan menurut spesifikasinya.

Hindari over-discharged
Proses pengosongan batere yang berlebihan juga bisa menyebabkan kerusakan. Satu kemasan batere NiCd telepon gengam sebesar 6 volt misalnya, jika dibongkar di dalamnya terdiri dari 5 sel batere yang masing-masing sebesar 1.2 volt dan terhubung seri. Tiap sel tidak selalu identik satu dengan yang lainnya. Ada kalanya jika batere dikosongkan berlebihan (over-discharged), ada satu atau dua sel yang tegangannya menjadi lebih kecil dengan sel batere yang lain. Akibatnya polaritas sel batere yang memiliki tegangan lebih kecil menjadi terbalik (reverse polarity) dan menyebabkan batere keseluruhannya menjadi rusak. Setidaknya mempertimbangkan anjuran pakai pada kemasan batere umumnya untuk tidak mencampur batere baru dengan batere yang lama.

Manfaat terpenting Cokelat


Cokelat: Dapat Membuat Jantung Anda Sehat?
Oleh Carrie Dierks (2000 Peregrine Publishers, Inc.)


Siapa sih yang tidak suka cokelat? Silver Queen, Toblerone, Cadbury. Itu saja baru merek-merek yang banyak dijual di dalam negeri. Belum cokelat-cokelat dari Eropa dan Amerika seperti Godiva, Ferrero Rocher, Hershey, M&M, dan lain-lain. Cokelat juga digunakan sebagai perasa es krim, berbagai macam kue, dicampur susu, lapisan kue tart dan wah banyak lagi. Bahkan cokelat bukan hanya dijadikan makanan. Orang pun menulis beberapa lelucon tentang cokelat: Diet yang seimbang adalah memakan jumlah yang sama cokelat hitam dan cokelat putih setiap hari. Satu tip untuk mengurangi berat badan adalah dengan mengkonsumsi satu batang cokelat sebelum makan. Dengan begini selera makan Anda akan berkurang dan Anda akan mengurangi makan Anda.
Cokelat memang enak. Dan yang membeli dan memakannya juga tidak sedikit. Tidak heran kalau riset mengenai cokelat mendapat tempat tersendiri di perusahaan-perusahaan pembuat cokelat. Kimiawan patut mendapat acungan jempol dalam hal ini. Ada cokelat yang titik leburnya dibuat sangat tinggi, sehingga kalau dibawa ke padang pasir sekali pun cokelat ini tidak akan meleleh. Ada periset yang khusus mencari paduan rasa cokelat dengan rasa-rasa lainnya. Cokelat campur kelapa, cokelat dengan rasa strawberry, rasa mentol, dicampur dengan berbagai macam kacang, dibungkus kulit warna-warni, dan sebagainya.
Tapi kita juga tahu kalau banyak makan cokelat sebenarnya tidak bagus. Sehingga banyak yang merasa bersalah kalau makan cokelat banyak-banyak. Tapi ada satu artikel yang ditulis oleh Carrie Dierks yang mengemukakan berita bagus bagi penggemar cokelat. Riset terakhir katanya justru memperlihatkan kalau cokelat mungkin dapat mencegah penyakit jantung. Seperti halnya setiap isu memiliki dua perspektif yang berbeda, maka cokelat pun dapat dikaji dari dua sisi pandang yang berbeda.
Cokelat terbuat dari biji cocoa yang kaya akan senyawa beraroma bernama falovonoids, yang juga terdapat di daun teh, kebanyakan buah-buahan dan sayur-sayuran. Sampai saat ini, lebih dari 4000 macam flavonoid yang telah diidentifikasikan. Tumbuh-tumbuhan mensintesis senyawa yang dapat larut dalam air ini dari asam amino phenylalanine dan asetat. Flavonoids berperan sebagai antioksida, menetralkan efek-efek buruk dari radikal bebas yang dapat menghancurkan sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh. Satu setengah ons batang cokelat hitam kira-kira memiliki 800 miligram antioksida, kira-kira sama jumlahnya seperti yang terdapat di dalam secangkir teh hitam. Temuan baru menunjukkan bahwa bukan hanya jumlah flavonoids yang penting, tapi juga potensi senyawa-senyawa tersebut.
Di sebuah simposium yang disponsori oleh American Academy for the Advancement of Science (Akademi Pengembangan Sains Amerika), para periset memberitakan bahwa flavonoids yang terkandung di dalam biji cocoa adalah antioksida yang sangat bagus. Mereka menekan oksidasi low-density lipoproteins (LDL, atau yang sering disebut kolesterol jelek), sehingga dapat mencegah sumbatan di dinding-dinding pembuluh darah arteri.
Di sebuah studi yang disponsori oleh Mars, Inc. (salah satu perusahaan cokelat terbesar AS), para periset di University of California Davis, juga menemukan bahwa flavonoids di cokelat meningkatkan konsentrasi nitric oxide di dalam tubuh. Mereka berteori kalau hal ini memberikan kontribusi bagi kesehatan jantung karena nitric oxide dapat melenturkan lapisan dalam pembuluh-pembuluh darah.
Hasil lainnya dari studi ini adalah proses pembuatan cokelat sebenarnya menghancurkan senyawa antioksida di dalam cokelat. Mars telah mengembangkan suatu proses baru di mana flavonoids yang terkandung di dalam cokelat produksi mereka tidak hilang. Di AS mereka akan menjual produk-produk cokelat dengan proses ini dengan label "cocoapro".
Apakah kita patut mempercayai hasil kaji kegunaan cokelat ketika kita tahu riset ini dibiayai oleh perusahaan pembuat cokelat? John Erdman, ahli gizi dari University of Illonois dan ketua simposium AAAS tentang cokelat, menyadari kalau banyak orang yang menjadi skeptis tentang hal ini. Tapi di lain pihak, dia mengatakan bahwa tanpa kucuran dana tersebut, riset ini bakal tidak dapat dilakukan sama sekali. Kemungkinan untuk para ahli medis untuk berbondong-bondong menganjurkan oarng-orang untuk makan lebih banyak cokelat sangat kecil. Cokelat mengandung terlalu banyak lemak dan gula untuk dapat dikatakan sebagai makanan yang sehat. Tapi banyak orang yang senang mengkonsumsi cokelat dan sains mungkin dapat menjelaskan bahwa kegemaran ini ternyata tidak seburuk yang orang sangka.

Diterjemahkan dan disadur dari artikel "Chocolate: It Could Do Your Heart Good" oleh Carrie Dierks (2000 Peregrine Publishers, Inc) oleh Yulianto Mohsin.

Senin, 14 Januari 2008

Surat Pertama Ku untuk Kalian Sang Blogger

Hai Dunia Sang Blogger...

Malam ini terasa dingin mendekap tubuh yang kaku ini. Saat kesepian selalu menjangkiti hati ini, akhirnya kutemukan sesuatu yang beda dari apa yang pernah aku dengar, raba, dan rasakan... tahukah kalian siapa dan apa hal itu? yah, itu adalah sang blogger, kalian! Yang akan selalu menemaniku disaat aku membutuhkan kalian, selamanya...
Silahkan tinggalkan kata-kata hingga pesan, apapun itu, demi kenyamanan, canda, tawa, tangis, dan kegembiraan yang bisa aku temukan dari kalian hingga dari aku disini.

Terima Kasih.